Lembaga Penelitian, Pengabdian dan Keilmuwan (LP3K) Universitas Djuanda (UNIDA) menyelenggarakan Seminar Nasional Riset dan Pengabdian (SENADA) 2025 pada Rabu, 19 November 2025 secara daring melalui platform Zoom Cloud Meeting. Mengangkat tema “Kampus Berdampak: Hilirisasi Riset dan Pengabdian untuk Indonesia Maju”, SENADA menjadi ruang ilmiah yang mempertemukan peneliti, dosen, mahasiswa, dan praktisi dari berbagai perguruan tinggi.
Tahun ini, SENADA menghadirkan empat narasumber, yakni Erlin Puspaputri, S.Si., M.Sc (DP2M Diktisaintek RI), Prof. Dr. Ir. Dede Kardaya, M.Si (Guru Besar UNIDA), Dr. Tjahja Muhandri, S.T.P., M.T (Institut Pertanian Bogor), serta Dr. Rusi Rusmiati Aliyyah, M.Pd (UNIDA).
Ketua LP3K UNIDA, Prof. Dr. Rasmitadila, M.Pd menyampaikan bahwa SENADA 2025 mencatat capaian positif dengan diikuti 360 partisipan dan 203 pemakalah dari 39 perguruan tinggi di Indonesia.
“Angka partisipasi tersebut mencerminkan kepercayaan yang besar terhadap UNIDA dalam penyelenggaraan seminar ilmiah nasional. Data ini menjadi bukti bahwa SENADA telah menjadi wahana akademik bagi dosen dan mahasiswa untuk saling menguatkan serta mendorong hilirisasi riset dan pengabdian masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa SENADA dapat menjadi momentum strategis untuk memperkuat sistem riset nasional dan melahirkan inovasi yang berdampak bagi kemajuan bangsa.
Rektor UNIDA, Assoc. Prof. Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I, dalam sambutannya menegaskan bahwa hilirisasi riset merupakan jembatan yang menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat. Ia menilai bahwa hasil penelitian yang berhasil dihilirkan berpotensi menghasilkan teknologi dan inovasi yang memperkuat daya saing nasional.
Menurutnya, SENADA menjadi wadah kolaborasi akademik yang konsisten dikembangkan UNIDA untuk memperkuat ekosistem riset. Ia berharap kegiatan ini dapat menghadirkan karya yang relevan bagi masyarakat serta mendukung agenda pembangunan menuju Indonesia Maju.
“Riset perlu hadir sebagai bukti konkret bagi masa depan Indonesia. Melalui SENADA, kita memperkuat pertukaran inovasi, berbagi pengalaman lintas perguruan tinggi, dan memperluas jejaring riset serta pengabdian masyarakat,” tutur Rektor.
Sesi pemaparan narasumber dipandu oleh Dr. Ani Yumarni, S.H.I., M.H. Para pemateri membahas isu-isu strategis, mulai dari arah kebijakan riset nasional hingga tantangan hilirisasi inovasi di perguruan tinggi.
Erlin Puspaputri, S.Si., M.Sc dalam pemaparannya menegaskan bahwa penelitian memiliki fungsi ganda, yakni memperkuat pengembangan ilmu pengetahuan dan menjawab kebutuhan pembangunan nasional. Ia menekankan pentingnya hilirisasi agar riset tidak berhenti pada publikasi.
“Untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, riset harus menghadirkan perubahan nyata. Kampus perlu hadir di tengah masyarakat dan memastikan penelitian berjalan selaras dengan arah pembangunan,” jelasnya.
Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. Dede Kardaya, M.Si memaparkan bahwa kampus yang berdampak adalah kampus yang mampu menciptakan perubahan sosial dan ekonomi melalui relevansi riset, kemitraan lintas sektor, serta keterlibatan mahasiswa.
“Hilirisasi riset merupakan langkah penting untuk meningkatkan daya saing bangsa. Penelitian perlu diturunkan menjadi teknologi, paten, model bisnis, atau produk yang memberi nilai tambah,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Dr. Tjahja Muhandri, S.T.P., M.T menyoroti perbedaan orientasi antara riset dasar dan riset aplikatif. Menurutnya, tantangan hilirisasi di Indonesia tidak semata pada ketersediaan inovasi, tetapi pada sistem apresiasi yang masih berfokus pada publikasi.
“Jika penghargaan tertinggi belum diberikan pada implementasi teknologi, maka inovasi sulit berkembang maksimal,” tegasnya.
Ia juga memberikan panduan bagi peneliti dalam mengembangkan riset aplikatif dengan menekankan identifikasi masalah nyata, penggunaan bahasa praktis, serta penghitungan aspek ekonomi.
Sementara itu, Dr. Rusi Rusmiati Aliyyah, M.Pd menekankan bahwa riset dan pengabdian yang berdampak memiliki kontribusi besar terhadap peningkatan mutu pendidikan tinggi.
“Integrasi hasil penelitian ke dalam pembelajaran membuat kurikulum lebih relevan dan berbasis bukti. Pengabdian masyarakat juga membuka ruang bagi mahasiswa maupun dosen untuk menjembatani kebutuhan lokal dengan praktik akademik,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa institusi yang konsisten mengutamakan riset dan pengabdian cenderung memiliki reputasi akademik lebih kuat, jaringan kerja sama lebih luas, serta daya saing global yang lebih baik.
Kegiatan SENADA ditutup dengan sesi paralel yang memfasilitasi presentasi artikel riset dan pengabdian dari berbagai bidang, mulai dari pendidikan, ekonomi, hukum hingga pertanian. Setiap ruang diskusi dipandu koordinator panel guna memastikan sesi berlangsung fokus dan produktif. SENADA 2025 juga turut didukung oleh mitra penyelenggara, yakni Universitas Sunan Drajat Lamongan (UNSUDA) dan Universitas Graha Nusantara (UGN).

