LP3K UNIDA Bahas Cara Menyusun State of the Art dan Roadmap Penelitian pada Pertemuan Kedua Scientific Forum Series

LP3K UNIDA Bahas Cara Menyusun State of the Art dan Roadmap Penelitian pada Pertemuan Kedua Scientific Forum Series

Blog Single

Universitas Djuanda (UNIDA) melalui Lembaga Penelitian, Pengabdian, dan Pengembangan Keilmuan (LP3K) melanjutkan rangkaian kegiatan Scientific Forum Series yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Cloud Meeting. Pertemuan kedua yang dilaksanakan pada Selasa (16/12/2025) mengangkat topik “Cara Menyusun State of the Art dan Roadmap Penelitian”. Pertemuan kai ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman dosen dalam memetakan posisi kebaruan penelitian (novelty) serta menyusun arah dan tahapan penelitian secara berkelanjutan dan terintegrasi.

Wakil Rektor III UNIDA sekaligus Ketua LP3K, Prof. Dr. Rasmitadila, M.Pd, dalam pengantarnya menyampaikan bahwa state of the art dan roadmap penelitian merupakan dua komponen krusial yang memiliki bobot penilaian tinggi dalam proses review proposal hibah penelitian maupun publikasi ilmiah. Menurutnya, kedua aspek tersebut masih menjadi tantangan bagi banyak pengusul penelitian.

“Berdasarkan pengalaman sebagai reviewerstate of the art dan roadmap penelitian menjadi bagian yang paling menentukan, terutama dalam menunjukkan kebaruan dan arah pengembangan riset,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Rasmitadila, M.Pd menekankan bahwa penyusunan state of the art harus diawali dengan kajian literatur yang komprehensif dan mutakhir. Peneliti dituntut untuk banyak membaca agar mampu memahami posisi riset yang akan dilakukan dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, baik pada level nasional maupun internasional.

Ia menjelaskan bahwa pemetaan penelitian dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai basis data ilmiah seperti Scopus, Web of Science (WoS), Google Scholar, serta perangkat bantu analisis bibliometrik seperti VOSviewer dan Publish or Perish. Selain itu, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT juga dapat digunakan sebagai alat bantu awal, dengan tetap memperhatikan keterbatasan akses data dan pentingnya verifikasi sumber primer.

“Intinya, sebelum menulis proposal, peneliti harus memastikan sejauh mana topik tersebut sudah diteliti oleh orang lain. Dari sanalah kebaruan penelitian dapat ditemukan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Dr. Rasmitadila, M.Pd menegaskan pentingnya mengidentifikasi research gap atau kesenjangan penelitian sebagai dasar dalam merumuskan solusi atau kontribusi ilmiah yang ditawarkan. Posisi riset yang diusulkan perlu dipetakan secara jelas agar tidak mengulang penelitian yang sudah banyak dilakukan sebelumnya.

Kemudian untuk memperkuat argumentasi, Prof. Dr. Rasmitadila, M.Pd menyarankan penggunaan visualisasi data seperti tabel, grafik, atau peta riset guna memudahkan reviewer dalam memahami posisi dan kontribusi penelitian yang diajukan. Kebaruan penelitian juga harus dinyatakan secara tegas dan eksplisit dalam proposal, baik dalam satu kalimat maupun paragraf singkat.

State of the art membantu peneliti menunjukkan posisi dan kebaruan risetnya, sementara roadmap penelitian menjadi kompas yang mengarahkan pengembangan riset secara berkelanjutan dan selaras dengan visi institusi,” pungkasnya.

Related Posts: